LANNY JAYA, PAPUARAYANEWS.com –
Di balik hamparan pegunungan dan keterbatasan fasilitas pendidikan di Kabupaten Lanny Jaya, ada pemandangan yang tak biasa di halaman SMP Negeri 1 Balingga pagi itu.
Barisan siswa berdiri tegak, mengikuti aba-aba dengan penuh semangat. Di hadapan mereka, para prajurit TNI bukan sedang menjalankan operasi militer, melainkan menjadi pengajar—membawa semangat baru melalui program “TNI Mengajar”.
Langkah kaki yang awalnya ragu perlahan menjadi serempak. Suara komando terdengar lantang, dipimpin oleh Arif Jumaedi.
Gerakan Peraturan Baris Berbaris (PBB) yang diajarkan bukan sekadar latihan fisik, tetapi sarana membentuk karakter: disiplin, tanggung jawab, dan kebersamaan.
Di sela-sela latihan, tawa pecah di antara para siswa. Rasa lelah seolah tak terasa. Bagi mereka, kehadiran prajurit TNI di sekolah bukan hanya pengalaman baru, tetapi juga sumber motivasi yang jarang mereka dapatkan di tengah keterbatasan.
Namun kegiatan hari itu tidak berhenti di lapangan. Setelah pelatihan fisik, suasana bergeser menjadi lebih hangat ketika para prajurit mulai membagikan buku pelajaran.
Buku Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam berpindah dari tangan ke tangan, disambut mata berbinar para siswa. Di tempat di mana akses terhadap bahan belajar masih terbatas, buku-buku itu menjadi sesuatu yang sangat berharga.
Kepala sekolah, Yulius Tabuni, tak menyembunyikan rasa harunya. Ia melihat langsung bagaimana bantuan sederhana tersebut mampu menghadirkan semangat baru di kalangan siswa. Baginya, kehadiran TNI bukan hanya membantu, tetapi juga memberi harapan.
Program “TNI Mengajar” yang dijalankan oleh Yonif 511/Dibyatara Yodha menjadi bukti bahwa peran prajurit tidak hanya terbatas pada menjaga keamanan.
Di wilayah pedalaman seperti Balingga, mereka hadir sebagai sahabat, pendidik, sekaligus motivator bagi generasi muda.
Di ujung kegiatan, barisan kembali dibubarkan. Namun yang tertinggal bukan sekadar jejak langkah di tanah lapang, melainkan semangat baru yang tumbuh dalam diri para siswa. Di tengah segala keterbatasan, mereka kini memiliki bekal tambahan—bukan hanya buku, tetapi juga keyakinan bahwa masa depan dapat diraih dengan disiplin dan kerja keras.
Di Balingga, hari itu, pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas. Ia hidu p di lapangan terbuka, dalam barisan yang rapi, dalam tawa yang lepas, dan dalam harapan yang perlahan menemukan bentuknya. (Pendam Cenderawasih)




