WAMENA, PAPUARAYANEWS –
Pidato terbuka Wakil Gubernur Papua Pegunungan Ones Pahabol menjadi sorotan publik dan sekaligus simbol kedewasaan politik di tingkat daerah. Dengan penuh ketulusan, dirinya menyampaikan permohonan maaf kepada pasangannya Gubernur John Tabo dan masyarakat atas kesalahpahaman yang sempat mencuat di media sosial dan menjadi viral.
Langkah ini dianggap mencerminkan sikap kenegarawanan dan tanggung jawab moral seorang pemimpin daerah. Dalam pernyataannya, Wakil Gubernur menegaskan tidak ada perpecahan di antara pimpinan tertinggi Papua Pegunungan.
“Saya legowo, saya menerima apapun. Kami berdua utuh, tidak terpecah,”ucapnya.
Dirinya juga menyoroti pentingnya komunikasi dan pembagian tugas antara Gubernur dan Wakil Gubernur, agar roda pemerintahan berjalan efektif.
“Perlu ada pembagian tugas dan kewenangan yang sehat agar pemerintahan bisa berjalan lancar,”kata mantan Bupati Yahukimo dua periode itu.
Lanjutnya dalam konteks politik daerah, pernyataan ini menunjukkan upaya nyata memperkuat sinergi antara pimpinan di wilayah otonomi baru yang masih membangun fondasi pemerintahan. Wakil Gubernur menekankan bahwa masa politik telah usai.
“Kami bukan politik. Politik sudah selesai. Sekarang kami bekerja untuk pelayanan,” tegasnya.
Sikap rendah hati tersebut mendapat apresiasi dari sejumlah tokoh masyarakat yang menilai langkah itu sebagai bentuk kematangan dalam memimpin.
“Ini contoh baik bagi pejabat publik lainnya. Tidak semua berani mengakui kesalahan dan meminta maaf di depan umum,” kata salah satu tokoh gereja di Wamena.
Pidato tersebut juga ditutup dengan seruan persatuan dan ajakan membangun Papua Pegunungan dengan kasih dan iman.
“Kami dua akan bekerja dengan hati yang tulus, karena Tuhan tahu isi hati kami,”janji Wagub Ones.
Saat Apel Pagi
Sebelumnya Gubernur Papua Pegunungan dihadapan ASN Pemprov Papua Pegunungan saat apel pagi Senin (27/10/2025) menyinggung manufer Wagub Ones Pahabol yang dianggap sudah melanggar tupoksi sebagai seorang waki gubernur. Tanpa berkoordinasi dengan dirinya sebagai gubernur.
Bahkan dari rekaman video yang diterima redaksi, Gubernur JT menyinggung ada surat – surat yang beredar di media, grup dan bahkan instansi pemerintahan di pusat, yang mengatasnamakan gubernur dan menggunakan kop gubernur.
“Padahal gubernur masih segar. Sehat walafiat. Atas nama gubernur surat ini ditandatangani gubernur yang tidak masuk di akal ku. Tidak pernah ada arahan dan perintah dari gubernur. Tolong dijawab surat – surat itu. Ini sangat memalukan kami orang – orang gunung,”tekannya dihadapan ASN.
JT menegaskan seharusnya membaca undang – undang dengan baik. Sebab kewenangan gubernur dan wakil gubernur sudah diatur dalam UU dan Peraturan Pemerintah. (ist/ina)




