Mayat Bayi yang Terbang Bersama Asap Bom - PAPUARAYA NEWS

Mayat Bayi yang Terbang Bersama Asap Bom
-Abdillah Rakinten

Mayat bayi yang terbang ke awan bersama asap Bom Bunker yang membumbung tinggi sungguh mengguncang rasa paling dalam kemanusiaan setiap orang waras yang melihatnya. Bagi hati yang mengabaikannya dan menganggap ini hal biasa-biasa saja, agar berhati-hati kalian sedang bermutasi dari manusia berubah menjadi setan.

Gaza hari ini,  akhir peradaban Barat berujung pada anti-kemanusiaan. Peradaban yang selama lima abad telah memimpin dunia dengan memamerkan Demokrasi, Feminisme, Modernisme, Hak Asasi Manusia (HAM) dan kemajuan sains teknologi sebagai contoh bagi negara berkembang, ternyata hanya kedok saja.

Di hari-hari pasca gencatan senjata yang dikhianati di Gaza, Israel dan AS disaksikan dunia yang diam seribu bahasa, sedang mempertontonkan praktik anti-kemanusiaan yang nyata bagi bangsa Palestina, Lebanon, Suriah dan Yaman. Inilah wajah Barat yang sebenarnya ketika terkuak topengnya. Realita kekalahan zionis dalam Perang Gaza 15 bulan, membuat mereka kalap dan bermutasi total menjadi musuh kemanusiaan sekali lagi musuh kemanusiaan, karena jika penulis menusli disini musuh manusia sejatinya penulis bingung, karena hanya manusia di Palestina, Lebanon, Suriah, Yaman, dan Iran yang melawan sedangkan yang bermilyaran lain hanya sibuk dengan sosial media yang juga diciptakan oleh pihak penghilang kemanusiaan.

Kezaliman itu polanya berbatas alias ada titik puncaknya. Tak ada kezaliman abadi. Beda dengan pola kekafiran, dia selalu ada berpasangan dengan kemukminan. Dia dapat berpindah posisi kepada orang yang berbeda sepanjang masih menutup mata.

Tak ada lagi kata yang dapat mewakili keadaan dimana penduduk Gaza yang terkurung dari akses bantuan makanan, dibom dengan Bom Bungker. Sehingga ada pemandangan mayat Anak-anak beterbangan ke awan, dan ada yang langsung terkubur di kedalaman bawah tanah. Benyamin Netanyahu, Joe Biden, Donal Trump merupakan sosok bermuka manusia itu mereka semua sebenarnya manusia atau kah bukan? Dan mata yang melihat dengan nyata-nyata pemandangan tadi namun diam saja adakah mata itu punya hati ataukah hanya hati yang berupa batu?

Lihat dirimu pembaca yang budiman, adakah engkau masih manusia ketika kau menilai bahwa Palestina tak terhubung denganmu? Telisik baik-baik, apakah tubuhmu juga sudah berada di derajat terendah yakni batu  yang hatinya ikut mengeras. Kelihatannya kemanusiaanmu dan keimananmu sedang bermasalah. Sedang terguncang dan tergugat. Kenapa hembusan angin kecil pun sepertinya tak ada dalam hatimu yang membuatmu condong sedikit saja untuk kemanusiaan yang dinafikkan di Palestina.

Palestina hari ini seperti sebuah reaktor semesta yang sedang dipanaskan kuadrilyunan derajat Celsius untuk terus mendekati batasnya. Karena setiap yang bermateri ada batas untuknya. Juga ada batas untuk kezaliman. Kegelapan yang menjelajah ke palung kedalaman jiwa Benyamin Netanyahu, Joe Biden, dan Donald Trump telah memompa agar kadar kezaliman peradaban itu sampai pada batasnya.

Tuhan memakai Bangsa Palestina untuk Dia jadikan alat-Nya membuat garis demarkasi yang membelah dua antara manusia vs anti-kemanusiaan. Antara Tuhan vs Anti-Tuhan. Dunia Barat yang anti kemanusiaan versus Dunia Baru yang ber-Tuhan yang menjunjung tinggi kemanusiaan, yang duduk sejajar antar-bangsa. Konsep pandangan dunia Baru Multilateral dalam waktu tidak terlalu lama akan mengalahkan Unilateral peradaban Barat. Dunia Baru ciptaan Dajjal yang hegemonik sedang tenggelam di peraduannya.

Reaktor besar ini sedang terus dipanaskan untuk mencapai titik batas dia akan meledak seperti ledakan supernova alias bintang mati. Keadaan Palestina hari ini tak bisa terlukiskan dengan kata-kata. Kita dalam ketak-berdayaan untuk menggambarkan keadaannya hanya bisa meminjam Peristiwa Karbala. Situasai dimana mutu kezaliman diabadikan dalam ayat Alquran sebagai Dibhun Adzim (Penyembelihan Agung). Manusia yang dibantai dalam keadaan haus dan lapar, melihat Palestina saat ini seperti memutar Kembali video kejadian penyembelihan agung cucu nabi, mereka syahid dalam keadaan lapar, haus, namun dapat ditegaskan mereka tidak syahid dalam keadaan tidak berdaya, mereka melakukan perlawanan siang dan malam, melawan segala bentuk kedzaliman yang dilancarkan secara terus menerus.

Diamnya manusia yang mengaku muslim,  jumlahnya seperempat penduduk bumi hari ini, sekitar 2 milyar, sebuah fenomena aneh yang sulit digambarkan. Belum ada kata-kata yang dapat mewakili keadaan ini. Dua milyar manusia dengan model seperti begini bukan saja patut dipertanyakan kelayakan kemanusiaannya. Ketika kemanusiaan seseorang dikatakan tidak layak maka dapatkah mereka disebut seorang muslim? Dimana letak kemusliman mereka?

Merendahkan kemanusiaan dengan eskalasi serendah-rendahnya seperti membunuh bayi dengan Bom Bunker, sesungguhnya telah menghapus makna PBB. Untuk apa ada PBB kalau yang telah disepakati sebagai batas dalam peperangan pun diabaikan. Tak ada lagi norma hukum humanitarian. PBB berdiri seakan seperti polisi tidur, lebih banyak diam mematung daripada bergerak menyergap, bahkan lebih baik polisi tidur yang berhasil membuat beberapa pengendara memperlambat laju kendaraan agar anak-anak yang bermain dijalanan tidak celaka.

Peradaban manusia hari ini sedang dilecehkan sehina-hinanya oleh makhluk yang berwujud manusia disaksikan dalam diam seribu bahasa oleh makhluk yang juga berwujud manusia. Pelecehan seterang matahari di siang bolong pada musim panas ini seakan tidak menyengat siapapun, entah tidak menyengat atau manusia-manusia yang ada di bumi ini memaksa menggunakan payung untuk menutupi wajah busuknya.

Jangan sebut bangsa Palestina yang sabar dalam menjalani penderitaannya. Mereka ridha kepada Tuhannya dan Tuhannya ridha terhadap mereka. Hamas yang sekokoh batu karang beserta Jihad Islam, Brigade Al Quds dan milisi pemberani lainnya. Hizbullah dengan pengorbanan pimpinannya Sayid Hasan Nasrullah yang gugur sahid dibom bunker. Jangan juga sebut Houthi Yaman yang teguh, janji Rasulullah sebagai titik start kebangkitan manusia era baru. Jangan sebut Husdu’syabi, Kataib Hizbullah di Irak dan milisi Ba’tyun Sadid di Suriah. Tak usah disebutkan disini Republik Islam Ira, mereka itu Syi’ah. Meski semua kekuatan batu karang yang disebut diatas berawal dari konsep Pemerintah Para Ahli Fiqh. Terlalu agung kedudukan mereka untuk kita sentuh. Mereka telah dipilih Allah untuk mengibarkan bendera kemanusiaan yang nyaris rubuh. Mereka bukan hanya simbol, namun mereka adalah sejatinya manusia yang ingin tuhan ciptakan.

Menyisakan kita yang berdiri dipersimpangan jalan – antara manusia dan bukan manusia, itu kita penulis dan pembaca yang budiman. Iman kita diuji dengan mayat bayi yang terbang ke awan bersama asap Bom Bunker yang meledak. Apakah hatimu akan tetap tak peduli atas ini. Apakah batu egomu akan masih tetap mengeras, apakah senyum dibibirmu akan tetap kembang kembis menonton video-video di youtube dan tiktok sedangkan saudaramu sedang menahan getaran dirahangnya karena menggigil dan kelaparan? Tentukan tuan dan nyonya, anda akan berdiri di pihak yang mana.

Drama anti-kemanusiaan yang sempurna diperankan Netanyahu tak mengetuk hati sedikitpun bagi pimpinan Fatah Mahmud Abbas (Mamah muda anak baru satu). Terngiang sketsa Alquran tentang hati keras membatu, sedangkan batu saja masih dapat memancarkan mata air. Awas, diam-diam tulisan Mahmud Abbas bisa muncul di jidat kalian.

Roket-roket masih terus berterbangan, begitupun dengan jumlah nyawa yang terus melayang, kehidupan dan kematian dipertaruhkan siang dan malam, nan jauh di daratan yang lain, manusia masih tak bergerak hanya berdiam. Air tak mengalir, obat-obatan terus menipis, makanan yang sejatinya kebutuhan pokok menjadi benda untung jika ada. Namun satu yang masih, senyum di wajah mereka akan selalu terpatri, bukan untuk diri sendiri, tapi untuk perlawanan yang terus berdiri, mereka tidak banyak berkeluh kesah, tidak ada mental health yang mereka perjuangkan, masih bernafas besok saja seakan keajaiban. Kemanusiaan dimasukkan jauh di goa pada kedalaman yang hanya gelap isinya, adakah kemauan pada tuan dan nyonya pembaca yang Budiman untuk bersama berdiri menarik Kembali kemanusiaan ke tempat yang seharusnya?

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Jadikan Postingan ini Sebagai Diskusi